Senin, 10 Juni 2013

Inflasi Mengenai Bawang Putih




Lulus mengatakan, pengaruh komoditas ini pada inflasi cukup besar. Harga bawang putih di sejumlah pasar tradisional di Kediri cukup tinggi, sampai Rp. 31.500 per kilogram, bahkan harganya ada yang lebih dari itu.

Selain karena cuaca, Lulus menyebut adanya inflasi ini juga karena kebijakan pemerintah akan impor. Beberapa komoditas bahan pokok ataupun buah dari luar negeri dibatasi, sehingga harga komoditas dalam negeri juga naik.

Penyebab Inflasi Cabai di Kota Kadiri





Melonjaknya harga cabe yang terjadi akhir-akhir ini tidak lepas dari peran Pasar Induk atau Grosir Buah dan Sayur di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota Kadiri contohnya. Pasar ini ternyata menjadi penentu harga cabe se-Indonesia.

Kepala Dinas Pertanian Kota Kediri “ Dewi Sartika ” mengungkapkan, Pasar Grosir Ngronggo sangat berpengaruh terhadap pasar cabe se-Indonesia karena mensuplai beberapa pasar lintas pulau. Mulai dari Kalimantan, Sumatera dan Jakarta.

Sabtu, 25 Mei 2013

Sekilas Tentang Bebek Potong



Keinginan masyarakat mengkonsumsi daging bebek meningkat 5 tahun terakhir. Padahal sebelumnya, daging bebek ini belum banyak digemari. Preferensi masyarakat terhadap daging bebek ini sangat kurang karena stigma yang melekat pada daging bebek memiliki aroma yang spesifik yaitu bau amis atau anyir. Tidak diketahui alasan pasti kenapa terjadi pengingkatan konsumsi yang cukup tajam tersebut apakah karena orang takut flu burung sehingga cari alternatif pengganti daging ayam. Atau karena ada satu kelompok menjadi trend setter ( acuan ) sehingga yang lain ikut-ikutan mengkonsumsi daging bebek. Yang pasti, dengan banyaknya restoran yang menyajikan menu daging bebek menjadi indikator permintaan yang meningkat. Padahal, dulu, untuk menjual bebek afkir susahnya setengah mati. Sementara sekarang, harga bebek afkir per ekornya bisa 2 kali lipat harga sebelumnya. Hal ini juga yang menyebabkan bisnis bebek lokal belakangan menjadi melejit. Euforia bisnis kuliner bebek yang menjamur di Yogya dan Jakarta dan mulai bermunculan di kota-kota yang lain menyebabkan mingkatnya permintaan akan daging bebek. Tetapi permintaan yang tinggi tidak disertai dengan pasokan yang cukup karena kurangnya bibit. Berikut harga bebek potong yang berhasil dihimpun sampai dengan tanggal 16 september 2010, - Bebek potong dengan berat 1,2 Kg Rp. 23.000 - Bebek potong dengan berat 1,3 Kg Rp. 24.000 - Bebek potong dengan berat 1,4 Kg Rp. 25.000 Inilah harga bebek potong pada tanggal 16 september 2010. Harga bebek sering mengalami perubahan tergantung pemasarannya.

Sumber: Sumber Rejeki Farm on Senin, 29 November 2010


Terimakasih Dan Semoga Sukses Selalu

Sekilas Tentang Telur Asin




Kualitas telur asin yang beredar di pasar saat ini, umumnya sangat memprihatinkan. Baik telur asin yang dijual di warung makan maupun pasar-pasar swalayan. Diperkirakan hanya sekitar 10% dari telur asin yang berada di pasar saat ini kualitasnya baik. Telur asin kualitas baik ini, antara lain bisa ditemui di toko-toko roti dan kue yang memproduksi telur asin sendiri. Bahkan telur asin matang yang dikemas tiga butir dan dijual di gerai pasar swalayan terkenal pun, setelah dibuka sudah tidak layak makan. Putih telurnya sudah rusak. Sementara telur asin yang dijual di warung-warung makan, putih telurnya berwarna kecokelatan, karena menggunakan bahan pengawet sendawa ( Kalium Nitrat atau KNO3 ). Sementara hanya bagian tepi kuning telurnya yang telah tergarami. Sebagian besar kuning telur itu masih tawar. Telur asin mentah yang dipasarkan masih dengan bungkus abu sekam, setelah direbus dan dibuka, banyak yang sudah kadaluwarsa. Putih telurnya sudah sangat asin ( kadar garamnya terlalu tinggi ), bagian pinggir kuning telurnya telah mencair dan bagian tengahnya menggumpal. Kualitas telur asin yang baik, ditandai dengan putih telurnya yang berwarna putih cerah dengan tekstur lembut. Tingkat keasinannya meskipun tinggi masih bisa ditolerir oleh lidah. Bagian kuningnya berwarna kuning tua bertekstur seperti pasir dan tetap padat namun lunak. Rasa asinnya sedang. Aroma bagian putih maupun kuningnya segar khas telur asin. Rasanya sangat lezat. Telur asin demikian dihasilkan dari telur mentah kualitas baik, dan diberi garam dengan cara yang benar. Telur asin demikianlah yang saat ini sangat langka di pasaran. Seorang pengusaha telur asin yang tetap mempertahankan kualitas, biasanya selalu kesulitan melayani pesanan karena kemampuan produksinya terbatas. Harga telur asin kualitas baik, bisa melambung sampai ke tingkat Rp. 2.500,- per butir. Sementara telur asin kualitas rendah dipasarkan dengan harga Rp. 1.500,- per butir bahkan lebih rendah lagi. Tingginya harga telur asin kulaitas baik, tidak menyurutkan pembeli, malahan justru merepotkan produsen karena kesulitan untuk melayani pesanan. Telur asin demikian masih dipasarkan terbatas, langsung dari produsen ke konsumen. Selama ini, yang lazim diasinkan hanyalah telur bebek yang berwarna biru. Telur itik warna putih tidak lazim dibuat telur asin. Seandainya telur itik warna putih ini dipaksakan untuk diasin, maka konsumen akan menolaknya karena dianggap sebagai telur mentog. Telur bebek segar yang beredar di pasaran, kebanyakan berasal dari jenis itik tegal dan mojosari. Maka yang mendominasi pasar saat ini adalah telur itik tegal dan mojosari hasil pemeliharaan secara kletekan. Telur hasil pemeliharaan kletekan, sebenarnya juga bermutu baik kalau kualitas pakannya memenuhi syarat. Kalau itik kletekan ini diberi pakan gabah, jagung dan tepung ikan, maka kuantitas dan kualitas telurnya juga akan baik. Telur yang akan diasin, baik berasal dari pasar maupun dari peternak langsung, harus diseleksi dengan cara dilampu ( di lihat di atas kotak berlubang dan di dalamnya diberi lampu ). Telur kualitas baik akan tampak jernih ( terang ) dengan lembaga ( bintik di tengah kuning telur ) masih hidup ( bergerak-gerak ) sesuai dengan gerakan telur. Telur yang keruh, sudah muncul urat darahnya atau embrionya mati, harus diafkir. Demikian juga yang kulitnya terlalu tipis, warnanya tidak standar dan cacat ( retak atau memar ) harus diafkir pula. Telur yang secara fisik memenuhi syarat, dicuci bersih dan ditiriskan. Pencucian bisa menggunakan deterjen maupun cukup dengan air, yang penting seluruh kotoran yang ada di kulit telur hilang. Sambil dicuci satu per satu, kulit telur juga kembali diperiksa, kalau-kalau masih ada yang cacat akibat benturan benda keras. Pengeringan telur bisa hanya dengan ditiriskan dan diangin-anginkan, bisa pula dengan dilap satu per satu dengan kain lap yang bersih. Bahan untuk mengasin telur adalah tanah liat, abu sekam atau tumbukan ( bubuk ) batubata dan garam. Garam yang digunakan tidak boleh garam dapur (garam bata maupun kristal halus = garam meja). Sebab garam demikian sudah diberi yodium untuk mencegah penyakit gondok ( pembengkakan kelenjar gondok di bagian leher ) akibat kekurangan zat yodium dalam air minum. Yodium dalam garam ini akan membuat kuning telur yang diasin bukan berwarna kuning, melainkan biru keabu-abuan. Hingga garam untuk mengasin telur haruslah garam krosok, berupa kristal kasar yang langsung berasal dari ladang garam hingga belum ditambah yodium oleh industri garam dapur maupun garam meja. Garam demikian banyak dijual di pasar dengan cara dikemas dalam kantong plastik. Harga garam krosok lebih murah daripada garam bata maupun garam bubuk. Garam krosok, biasa digunakan untuk menggarami ikan ( pembuatan ikan asin ) serta pembuatan es puter. Peralatan yang diperlukan untuk mengasin telur hanyalah wadah berupa ember plastik lebar atau kotak-kotak kayu. Bahan abu sekam relatif mudah diperoleh dibanding dengan bubuk batubata. Sebab abu sekam banyak dijajakan sebagai "abu gosok" yang ditukar dengan botol atau barang bekas lainnya. Abu sekam ini sudah benar-benar menjadi abu berwarna putih, bukan arang berwarna hitam. Abu sekam putih ini berasal dari perusahaan pembakaran genteng dan batubata. Kualitas telur asin yang diproduksi dengan abu sekam, kalah baik dibanding dengan yang dihasilkan bubuk batubata. Namun bubuk batu bata ini harus dibuat sendiri dengan menghancurkan batu bata atau pecahan genteng, lalu mengayaknya. Volume abu sekam maupun batu bata yang diperlukan, kurang lebih sama dengan volume telurnya. Jadi untuk mengasil telur 1 kg. ( volume ± 1 liter. = 12 butir ), diperlukan sekitar 1 liter ( 0,1 m³ ) abu sekam atau bubuk batubata. Volume garam yang diperlukan, 50% dari volume telurnya. Untuk mengasin 1 kg telur bebek, diperlukan 0,5 kg. ( 500 gram ) garam. Bisa saja volume garam ini dinaikkan untuk mempercepat pemasakan telur. Namun hasilnya, putih telur akan menjadi terlalu asin hingga mengurangi kualitas rasa (kelezatannya). Tanah liat yang diperlukan harus benar-benar bersih ( hanya berupa tanah liat ) baik yang berwarna hitam, merah maupun abu-abu, sebanyak satu genggam untuk telur 1 kg. Mula-mula tanah liat dicampur dengan 0,125 kg. ( 125 gram ) garam krosok dan air lalu dihancurkan sampai benar-benar menjadi adonan mirip dengan tepung beras untuk menggoreng pisang. Garam selebihnya (0,375 kg. = 375 gram) dicampurkan di abu sekam atau bubuk batubata, juga dengan sedikit air. Telur yang sudah dibersihkan dan ditiriskan, dilumuri adonan tanah liat dan garam lalu dibalut dengan adonan abu sekam atau bubuk batu bata. Ketebalan tanah liat yang menempel di kulit telur hanya sekitar 1 mm. Sementara ketebalan abu sekam atau bubuk batu bata sekitar 1 cm. Fungsi tanah liat hanyalah untuk menjadi perekat antara kulit telur dengan abu sekam atau bubuk batu bata. Dengan bantuan tanah liat, seluruh permukaan kulit telur sempurna tertutup lapisan garam. Hingga proses masuknya garam lewat pori-pori kulit telur akan berjalan sempurna. Telur yang telah terbalut adonan abu sekam atau bubuk batubata, selanjutnya ditata dalam ember plastik lebar ( ember cucian ) atau kotak kayu, ditutup dan diamankan di tempat yang terlindung. Proses masuknya garam sampai ke dalam pusat kuning telur, akan memakan waktu sekitar dua minggu ( 15 hari = 0,5 bulan ). Hingga setelah diperam selama 15 hari, telur harus diangkat, dibersihkan dari abu sekam/bubuk batu batanya, dicuci bersih agar tanah liatnya hilang, baru kemudian direbus. Perebusan bisa makan waktu antara 0,5 sd. 1 jam. Abu sekam dan bubuk batu bata bisa dipergunakan kembali untuk pengasinan periode berikutnya. Volume garam pada periode berikutnya cukup hanya 0,25 kg. ( separo dari pengasinan pada tahap awal ). Dari 0,25 kg. garam tersebut, 50% dicampurkan ke tanah liat dan 50% lagi dicampurkan ke abu sekam atau bubuk batu bata bekas mengasin sebelumnya. Selanjutnya proses pembuatan telur asin ini bisa dikerjakan secara rutin. Telur asin rebus bisa tahan disimpan dalam suhu ruangan selama 1 minggu. Lebih dari 1 minggu, kualitas telur akan menurun. Itulah sebabnya produsen telur asin wajib mencantumkan tanggal kadaluwarsa. Kebanyakan produsen telur asin menambahkan sendawa pada adonan tanah liaT maupun abu sekam/bubuk batu batanya. Sendawa memang bisa mengawetkan telur asin masak lebih dari 1 minggu. Namun kualitas telur asin Yang diberi sendawa akan menurun. Bagian putih telurnya akan berwarna kecokelatan . Beda dengan telur asin asli yang warna putih telurnya putih cerah.

Terimakasih Dan Semoga Sukses Selalu